Showing posts with label Jelajah. Show all posts
Showing posts with label Jelajah. Show all posts

Thursday, March 11, 2010

MANDING VILLAGE

by kasmadi

Sebuah desa tidak jauh dari pantai parangtritis (Paris), desa industri, seperti halnya kota gede. Desa tersebut bernama Manding. Jaraknya sekitar 3 - 4 kilometer sebelum Pantai Parangtritis.
(sumber gambar :mycityblogging.com)

manding merupakan tipikal desa di Indonesia, selain masyarakatnya bertani, juga membuka usaha home industri berupa produk barang jadi yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi.

Produk yang dihasilkan seperti sepatu, tas, jaket, topi dan pernak-pernik yang terbuat dari kulit.
Varian produk yang terbuat dari bahan yang sama ini telah mengangkat desa manding menjadi desa produktif untuk tujuan wisata. Wajar kalau kemudian pemerintah daerah mendaulat desa ini menjadi desa home industri. Peroduk yang dihasilkan tidak kalah kualitasnya dengan produk impor, meskipun demikian karena alasan klasik, produk-produk ini kalah bersaing dengan produk china dan manca negara. Perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk desa Manding ini.

Manding yang terletak di kabupaten Bantul ini menjadi snetra pengrajin kulit seperti di Cibaduyut atau PIK di Cakung Jakarta Timur. Sentra-sentra industri rumahan ini mentok hanya dikenal di dalam negeri karena daya dukung baik materil maupun non materil yang mungkin kurang dari pemerintah. Maka perlu terobosan kebijakan agar snetra-sentra seperti ini menjadi pendobrak industri sejenis dari luar negeri.

Wednesday, March 10, 2010

A trip to Paris

by kasmadi

Paris? Wow who refused to be taken to Paris. Eifel Tower is pictured in front of the eye.
Eit ... whoa, is pictured Paris wrote. Paris was there in Jogjakarta, hangout again young couple in love, make off tired after work and once weekly family gathering.

The journey to Paris we will be treated to a pretty hot country, knowing the beach. But along the way we'll also see a beautiful panoramic paddy dikes, when I happened to Paris's harvest. Paris does have a beautiful contour because there is complete hills, fields and certainly no direct beach.

Sendri Paris beach is legendary, since a few years ago I come and visit for a second time. Beautiful beaches with large waves and high are on the lips for the Indian ocean. Actually, the beach is made as worthy Paris sanur beach in Bali only in the direction of development there does not seem to mind. Paris is a hilly coast better than the Sanur beach. Perbukitannya can be used for paragliding, and fine sandy beaches for sunbathing can. Unfortunately, management is in shambles and the cleanliness of him that is not guaranteed. Stalls were scattered everywhere, not to mention the gig which also take tourists back and forth around the beach. Lodging is not arranged neatly. Well, there are many very shortcomings. Despite all these shortcomings are worthy of the Paris beach used as one of the beach tourism destination in Jogjakarta.

Friday, March 05, 2010

Jalan-Jalan Ke Paris

by kasmadi

Paris? Wow siapa yang nolak diajak ke Paris. Menara Eifel sudah terbayang dipelupuk mata.
Eit...nanti dulu, sudah ngabyangin Paris aja. Paris ini adanya di Jogjakarta, tempat mangkal pasangan muda yang lagi kasmaran, buat ngelepas penat setelah kerja semingguan dan silaturrahim keluarga.

Perjalanan menuju Paris kiata akan disuguhi pedesaan yang lumayan panas, maklum dekat pantai. Namun sepanjang perjalanan kita juga akan melihat panorama indah pematang sawah, kebetulan saat saya ke Paris sedang musim panen. Paris memang memiliki kontur yang indah karena lengkap ada perbukitan, pastinya ada persawahan dan langsung pantai.

Pantai Paris sendri sudah sangat melegenda, sejak beberapa tahun lalu saya datang dan kunjungan ini untuk kali yang kedua. Patainya indah dengan ombaknya besar dan tinggi sebab berada pada bibir samudra hindia. Sebenarnya, pantai Paris layak dibuat seperti pantai sanur di Bali hanya saja pembangunan ke arah sana sepertinya tidak terpikirkan. Pantai Paris yang berbukit lebih bagus ketimbang sanur. Perbukitannya dapat dipakai untuk paralayang, dan pantainya yang berpasir halus bisa untuk berjemur. Sayangnya, manajemen pengelolaanya amburadul dan kebersihan yang tidak terjamin. Warung-warung bertebaran di mana-mana, belum lagi bendi yang juga hilir mudik mengajak wisatawan berkeliling pantai. Penginapan yang tidak tertata apik. Yah, masih banyak sangat kekurangannya. Terlepas dari semua kekurangan tersebut pantai Paris memang layak dijadikan jagonya obyek wisata pantai di Jogjakarta.

Wednesday, March 03, 2010

Ramayana Ballet

by kasmadi

Salah satu daya tarik wisata di Jogjakarta adalah banyaknya situs-situs berupa candi. Peninggalan yang teramat berharga untuk diabaikan dari leluhur bangsa Indonesia. Candi-candi ini menjadi pemikat yang menakjubkan bagi turis untuk ditengok, ditelusuri sejarahnya dan arsitetkturnya.



para penari ramayana

Prambanan, sebagai salah satu candi termegah di Indonesia telah banyak menarik minat turis baik lokal maupun mancanegara. Candi peninggalan kerajaaan Hindu ini dalam menarik wisatawan salah satunya dengan menampilkan sendratari Ramayana. Sendratari ini mengisahkan peristiwa perebutan dara cantik yang telah menjadi istri Pangeran Rama, Dewi Shinta. Dewi Shinta yang konon kabarnya wanita tercantik di kerajaannya, membuat Rahwana mabuk cinta sehingga timbul niatnya membawa lari wanita cantik ini.

Kesempatan pun terbuka lebar saat Dewi shinta hanya dijaga oleh adik Pangeran Rama, Pangeran Lesmana, dan terjadilah penculikan tersebut dengan penampilan yang dramatis dari para penarinya.

Sendratari ini telah memikat banyak wisatawan. Buktinya, saat rombongan kami dari SMAN 74 Jakarta menonton, ternyata ada rombongan dari Jepang, India, Perancis dan juga turis lokal. Dalam bayangan saya, tarian ini akan digelar di taman Prambanan. Nyatanya dugaan saya melesat, sendratari ini ditampilkan di sebuah pendopo yang sengaja dibuat untuk pagelarannya. Hanya sebulan sekali yang ditampilakan di taman Candi Prambanan. Tiket masuk yang relatif murah, hanya Rp. 15.000,00 dan kalau anda membawa kamera dikenakan cas sebesar Rp. 5.000,00. Kalau anda membawa handycam diwajibkan membayar tambahan sebesar Rp. 50.000,00. Sayangnya, kondisi sirkulasi udara yang kurang nyaman membuat penonton kepanasan, meskipun pendopo ini didisain dengan sanitasi yang cukup baik. Namun tidak membuat nyaman penonton karena panas.

Tuesday, March 02, 2010

Gurame Bakar Numani

By kasmadi

Perjalanan yang melelahkan sejak dua hari tiba di Jogja, terobati oleh makan siang yang sederhana tapi mengundang selera. Bis yang kami tumpangi mampir di sebuah rumah makan di jalan parangtritis kabupaten bantul. Lokasinya di pinggir jalan sehingga memudahkan untuk wisatawan yang menyukai kuliner. Rumah makan itu bernama Numani. Menu favoritnya gurame bakar dan gurame asam pedas.

Selain menunya yang beragam, resto ini juga menyediakan musik live dengan penyanyi yang mengundang decak kagum, cantik bo. Kenyamanan pengunjung juga menjadi prioritas, dengan banyaknya saung yang ditata apik dan kesejukan pepohonan serta ditingkahi oleh gemericik air terjun buatan ditaman serta kecipak-kecipak ikan hias dan ikan emas yang sengaja dipiara.

Numani bisa menjadi resto kuliner alternatif bagi wisatawan yang mengunjungi jogja ke arah pantai parangtritis. Jadi anda tidak perlu bersusah payah mencari resto tradisional sekitar prangtristis yang menyajikan ragam kuliner dari menu ikan sampai sayuran khas jogja seperti gudeg, cah kangkung yang manis pedas dan satu lagi, ternacam kata teman-teman. Padahal namanya kerancam bukan terancam.

Monday, December 28, 2009

Nyaba MONAS!!!

by kasmadi

Liburan kali ini nyaba Monas. Sebagai lambang Jakarta, malah salah satu simbol negara, Monas menjadi penting banget. Liburan kali ini bener-bener nyaba monas dan wah tumpah ruah. Tetirah yang nggak disengaja, malah keterusan sampai sore. Nyaman juga Monas sekarang, meskipun masih saja ada pedagang asongan yang ngumper dan nyempit-nyempitin pejalan kaki terutama di tangga masuk keluar monas.

Kini Monas sudah tertata apik, ditambah ornamen-ornamen eksternal di pagar pembatas monumen berupa relief-relief. Taman-taman yang indah dan terawat dengan baik. Oya, kini sudah ada kereta wisata yang berfungsi sebagai antar jemput wisatawan yang berkunjung dari dan ke pintu masuk monas. HTM monas untuk anak-anak sebesar Rp. 1.500 dan dewasa Rp. 3.000 diluar HTM untuk menuju puncak monumen. Monas mempunyai ketinggian 132 meter dengan puncaknya berhias emas.

Kereta wisata sebagai moda transport antar jemput wisatawan

Relief-relief yang menjadi pembatas monumen dengan halaman terluar Monas

beberapa diorama yang telah diperbaharui dan ditata dengan apik.
Tidak lagi didominasi oleh peran Orde Baru

Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Sedangkan wilayah taman hutan kota di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas. (sumber : kumpulan.info)

Monas akan terasa lebih indah apabila di malam hari. Air mancur yang bisa berjoget sesuai irama musik yang diperdengarkan. Selamat datang ke Monas .....!!!

Tuesday, December 22, 2009

Syurga Dunia : Taman Botani Cibodas ?

by : kasmad

Entah untuk yang keberapa kalinya saya berkunjung ke taman cibodas. Namun, cibodas tetap saja menarik untuk dinikmati, apalagi baru kali ini bertamasya bersama keluarga. Taman Cibodas memang tidak bias lepas dari sejarah pendudukan Belanda atas Indonesia. Adalah ahli tumbuhan ternama saat itu, Johannes Elias Teijsmann yang memulai pembangunan taman cibodas pada tahun 1852.

Kebun Raya Cibodas atau Taman Hutan Raya (Botanic Garden), terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian 1275 m dpl, bersuhu udara 17 - 27 derajat Celcius. Kebun ini didirikan pada tahun 1862 oleh Johannes Elias Teysjmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor pada lokasi di kaki Gunung Gede. Dengan curah hujan 2380 mm per tahun dan suhu rata-rata 18 derajat Celsius, kebun botani ini dikhususkan bagi koleksi tumbuhan dataran tinggi basah tropika, seperti berbagai tumbuhan runjung dan paku-pakuan. (sumber wikipedia)


Areal Taman Cibodas memiliki luas kurang lebih 125 hektar dengan banyak dihiasi dengan berbagai jenis tumbuhan langka dari anggrek sampai bunga raflesia, dan tentu saja hewan-hewan serangga. Selain objek wisata berupa hutan lindung, di taman ini juga disediakan villa untuk wisatawan yang mau bermalam serta ada kuda-kuda yang sengaja disediakan untuk wisatawan berkeliling taman.


Jauh dilembah, terdapat sungai yang airnya bersumber dari curug kecil namun indah. Dibawahnya dibuat aliran sungai buatan yang melintasi jalan aspal. Untuk anak-anak bermain air cukup aman meski tetap harus hati-hati karena licin.


Setiap tempat wisata tentu ada areal yang disediakan buat masyarakat lokal untuk mengembangkan perekonomiannya. Begitu juga di taman ini, masyarakat sekitar disediakan tempat untuk menjajakan berbagai souvernir. Tepatnya, di arela parkir bisa menjadi pasar kagetan karena mendadak banyak sekali pedagang dari kerajinan sampai hasil bumi.


Ya, syurga dunia mungkin tidak terlalu tepat untuk menggambarkan keindahannya. Namun, rasanya tidak berlebihan kalau taman Cibodas disebut demikian.

Tuesday, December 01, 2009

Situs Bersejarah Marunda

by kasmadi

Idul Adha tahun ini, saya dan keluarga menikmati sepoi angin laut di Marunda. Cukup lama tidak bersilaturrahim dengan orang-orang Marunda Baru. Dulu orang mengenalnya dengan sebutan sarang bango. Lho, kenapa? Kampung-kampung di Jakarta memang sebagian besar dinamai oleh keterkenalan kampung tersebut. Kampung itu disebut sarang bango karena memang sangat banyak bango yang singgah setiap harinya, terutama sore hari. Saat masih kuliah, saya sering mengajak adik-adik untuk menikmati senja di pinggir tambak-tambak, di areal angkatan laut tempat gudang senjata. Setiap menjelangsore bago-bango turun menukik mencari ikan atau sekedar minum dan bercengkrama. Nikmat sekali pemandangan tersebut untuk dilewatkan. Sayang, kini tinggal cerita, gudang senjata angkatan laut itu kin telah banyak berubah fungsi. Tambak-tambak sudah banyak diurug dibangun rusun untuk anggota angkatan laut.

Saat memasuki wilayah sarang bango, kita sudah dihidangkan pergudangan kontainer, sebelah kirinya POM Bensin dan Pos elpiji, sepanjang jalan ang tadinya tambak-tambak kini berubah jadi gedung PLN dan rusun. Di kejauhan sedang dibangun pergudangan konteiner baru. Lenyap sudah pemandangan yang sering saya nikmati di sore hari. Mengapa kita begitu egois ya, sampai-sampai tempat bermain para bango kita rebut juga?

Untuk mengobati kekecewaan, saya mengajak tiga krucil dan neneknya menyambangi rumah pahlawan betawi, bisa jadi leluhur saya, rumah bang Pitung dan masjid Alam di sebelah utara pantai Marunda.

Rumah Bang Pitung
Diperkirakan dibangun sekitar abad ke-20. pemiliknya H. Syafiuddi, seorang pengusaha “sero” yang menurut masyarakat setempat rumahnya pernah dirampok si Pitung. Bentuk rumah ini merupakan salah satu model rumah Betawi pantai/pesisiran. Bentuk panggung untuk menghindari kemungkinan ombak besar Menggulung tepian. (sumber: www.jakarta.go.id)



Sayang, saat saya menyambangi rumah tinggi ini sedang direnovasi. Jadi, sekedar melihat dari luar. Untungnya mandor yang merenovasi berbaik hari membolehkan saya dan keluarga masuk melihat arsitekturnya, meski isinya sudah tidak ada, kosong. Yah, lumayanlah.

Pemandangan sekitar situs bersejarah Marunda
Lingkungan tempat lokasi rumah tinggi si Pitung kini telah cukup rapi. Jalan-jalan kecil menuju rumah pitung kini sudah diconblock. Udara panas memang ciri khas daerah pantai. Kanan kiri jalan sempit itudi apit tambak-tambak yang masih banyak disekitarnya. Di utara ada galangan kapal, ada beberapa kapal yang sedang bersandar baik yang sedang diperbaiki atau sudah sangat tua. Banyak orang-orang yang hobi mancing sedang asyik menunggui pancingnya diumpan ikan. Rumah susun sudah tampak dari kejauhan sebelum sampai di areal tersebut.




Beberapa kelompok mangrove masih tumbuh, meski tidak banyak. Dan, yang paling menarik ternyata masih banyak bangau berterbangan, berkejaran dan menukik mengambil ikan lewat paruhnya. Wah, pemandangan yang sudah lama tidak pernah kulihat ternya ada di area ini. Tidak rugi dong mengunjungi rumah tinggi Marunda.

Suasana lebih sempit terlihat aat masuk ke areal Masjid Al alam. Pemukiman yang padat di kanan-kirinya, masuk gang sempit di apit pagar seng batas pelabuhan dan kanannya sebuah SD Negeri.

Masjid Al Alam
Berdasarkan bentuk, gaya dan bahan bangunannya, masjid ini dibangun sekitar awal abad ke-18. Bangunan asli berukuran 10 x 10 m dengan meng gunakan konstruksi kayu, dinding dan plafonnya terbuat dari bambu, atap ditopang 4 buah tiang kayu (tiang sokoguru). Pada tahun 1989 bangunan masjid diperluas dengan menambah serambi depan dan serambi utara, selain itu juga dibangun tempat wudhu dan toilet pada sisi selatan.



Masjid al alam kini sedang direnovasi pula. Tetap saja banyak orang yang datang berkunjung, bahasa islaminya berziarah. Di samping masjid terdapat sumur tua untuk berwudhu, sementara dibelakang masjid ada makam kramat tempat orang "berziarah". Dan, persis dibelakangnya juga ada komplek pemakaman penduduk.

Thursday, October 15, 2009

Menyusuri Jejak Lagi

Menikmati sudut-sudut fatahilah
by kasmadi

Wednesday, October 14, 2009

Lagi Menyusuri Jejak

Kota Tua Jakarta on click

Menyusuri Jejak 2

Sepeda Onthel : Kenangan Masa Kecil
by kasmadi


Mengunjungi museum fatahillah seperti melihat kembali ke masa kedigdayaan VOC, para kumpeni yang membangun gedung-gedung bersejarah. Tapi perlu diingat, gedung-gedung bersejarah itu tegak berdiri di atas darah dan mayat bangsa Indonesia. Ada yang unik di halaman museum fatahillah, ojek sepeda onthel. Penyewaan sepeda onthel ini perjamnya Rp. 20.000.

Melihat sepeda onthel, jadi teringat kenangan masa kecil. Babe dan uwak Jenggot, bandar ojek di Sungai Bambu, sebuah kampung rawa yang kemudian berubah wujud jadi kota seperti sekarang ini. Ada jalan tol Wiyoto Wiyono dan jalan tol menuju bandara Soeta di atasnya. Babe sebagai juragan ojek mempunyai puluhan sepeda onthel. Dan, saat saya masuk SMP kalau aberangkat sekolah menuju SMP 95 di dekat stasiun Tj. Priok terkadang diantar oleh salah satu pengojek. Sebagian besar pengojeknya dari daerah Cikarang, kabupaten Bekasi, tepatnya desa sukatani. Nah, untuk merasakan kembali nikmatnya bersepeda onthel, saya menyewanya dan berkeliling kota tua.


Monday, October 12, 2009

Menyusuri Jejak

Kota Tua : Museum Fatahilah