Showing posts with label Kuliners. Show all posts
Showing posts with label Kuliners. Show all posts

Tuesday, March 02, 2010

Gurame Bakar Numani

By kasmadi

Perjalanan yang melelahkan sejak dua hari tiba di Jogja, terobati oleh makan siang yang sederhana tapi mengundang selera. Bis yang kami tumpangi mampir di sebuah rumah makan di jalan parangtritis kabupaten bantul. Lokasinya di pinggir jalan sehingga memudahkan untuk wisatawan yang menyukai kuliner. Rumah makan itu bernama Numani. Menu favoritnya gurame bakar dan gurame asam pedas.

Selain menunya yang beragam, resto ini juga menyediakan musik live dengan penyanyi yang mengundang decak kagum, cantik bo. Kenyamanan pengunjung juga menjadi prioritas, dengan banyaknya saung yang ditata apik dan kesejukan pepohonan serta ditingkahi oleh gemericik air terjun buatan ditaman serta kecipak-kecipak ikan hias dan ikan emas yang sengaja dipiara.

Numani bisa menjadi resto kuliner alternatif bagi wisatawan yang mengunjungi jogja ke arah pantai parangtritis. Jadi anda tidak perlu bersusah payah mencari resto tradisional sekitar prangtristis yang menyajikan ragam kuliner dari menu ikan sampai sayuran khas jogja seperti gudeg, cah kangkung yang manis pedas dan satu lagi, ternacam kata teman-teman. Padahal namanya kerancam bukan terancam.

Monday, February 08, 2010

IKAN BAKAR POJOK

by kasmadi

Ikan bakar pojok berlokasi di jalan raya pondok cabe arah pamulang tangerang selatan. Buat masyarakat pamulang dan sekitarnya sudah tidak asing lagi. Lokasinya yang strategis di depan lapangan terbang pondok cabe samping bukit modern dan lapangan golf, warung ikan bakar ini menjadi pilihan alternatif untuk kuliner. Penggila kuliner di Jakarta, sangat mudah menuju tempat ini, akses jalan alternatif ini yang ramai dilewati dari arah depok, bogor dan tangerang menuju Jakarta rasanya sangat familiar.

Menunya yang beragam membuat kita bisa leluasa memilih, mulai dari udang dengan berbagai racikan sampai ikan gurame sebagai menu andalan. Menunya antra lain ; udang bakar madu, udang sauce padang, udang asam manis, udang tepung sauce, ikan gurame goreng kering, gurame bakar, gurame asam manis, dan seafood lainnya. Cah kangkung dengan racikan yang variatif, cah kangkung tauco, cah kangkung manis pedas. Masih banyak lagi variasi menu lainnya yang bisa anda pilih sesuai selera.

Ikan gurame bakar

ikan gurame asam manis dan udang saus asam manis

udang saus asam manis

ikan gurame bakar, udang saus padang dan udang saus terigu

Saturday, May 02, 2009

Mang Engking

by kasmadi

Kuliner di kota Depok memang bejibun. Sepanjang jalan margonda raya sejak dari putaran jalan layang kampus UI sampai ke arah sawangan atau ke arah jalan raya Bogor. Kini, layak depok dijuluki kota kuliner. Salah satu tempat kuliner yang asyik bikin betah adalah warung mang engking.


Warung Mang Engking ini terletak di dalam kampus UI, persis dipinggir danau. Lokasinya yang teduh dengan model saung yang berada di atas kolam menambah eksotik penampilannya.
Disamping lokasinya yang strategis, warung mang engking juga menyediakan menu-menu menarik, bikin perut selalu lapar. Menu-menu tersebut antara lain ikan gurame bakar, udang bakar madu, sate udang, cah kangkung yang pedas, dan masih banyak lagi. Untuk memesan biasanya, warung mang engking menyediakan tempat dengan jam-jaman agar semua customer terlayani. Apalagi kalau hari libur, jangan harap kebagian tempat kalau tidak pesan terlebih dahulu. Biasanya satu paket, untuk 4 orang sekitar Rp. 400.000,00 menu komplit. Namun, flaksibel juga bila ingin kurang harganya dengan pengurangan menu sesuai pilihan dan kocek.





pengunjung bisa memilih saung sesuai kebutuhan dan banyaknya orang.

Thursday, January 15, 2009

Ayam Goreng Bahagia


Menikmati siang di kota Cirebon di warung ayam goreng bahagia terasabetul nikmatnya. Lagi lapar-laparnya, disuguhi menu yang menantang selera ayam goreng, sayur asem, ati ayam goreng, ditambah dengan hidangan penutup eskrim durian.


pasukan lapar sedang beraksi
sampai lupa kalau ada temen yang belum kebagian

Monday, January 12, 2009

Nasi Jamblang Mang Dul


Mendengar namanya yang terbayang adalah pohon jamblang.di Jakarta, rasanya sudah sangat sulit menemukan pohon jamblang.

Sebagai black in news-nya orang-orang gila kuliner : Warung mang dul berlokasi di Jalan Cipto Mangunkusumo kota Cirebon. Buka sekitar pukul 07.00 sampai dengan 14.00. Letaknya yang strategi bersebrangan dengan Grage Mall, di simpang jalan cipto mangunkusumo dan tuparev mudah dijangkau. Saking sudah topnya, warung mang dul tidak pernah sepi dari pengunujung yang sekedar sarapan .



Menu nasi jamblang yang beralaskan daun jati, dengan beragam menu dan pelayanannya self sevice. Setiap pengunjung bebas mencomot lauknya dan bebas nambah. Prinsip warung nasi jamblang ini : kejujuran. Sebab setelah makan ada petugas yang akan menghitung berapa biayanya, kejujuran konsumen sendiri yang menyebutkan apa yang ia makan. Nah bagi yang belum pernah ke Cirebon, jangan lupa mampir untuk sarapan di warung mang dul. Nasi jamblang khas Cirebon.... Autoblackthrough untuk mang dul dengan nasi jamblangnya!!!!!

Tuesday, December 23, 2008

Bandeng dan Udang Bakar


Black in News : Malam pukul 08.00, di tepi jalan Kartini rombongan makan malam dengan menu Ikan Bandeng Bakar tanpa duri dan Udang Bakar. Rasanya ......? Wah pokoke mak nyus pangkat 100.....

Setelah seharian keliling dan beristirahat sejanak dipenginapan, makan malam adalah yang dinanti-natikan. Hanya utnuk makan malam kali ini penuh perjuangan, menempuh kurang lebih 30 km. Luar biasa, atit peyut bi, kata ferdy.



menikmati ikan bakar bandeng di tepi jalan Kartini Cirebon

Di Cirebon, ada makanan yang nggak dapet ditemui di Kebayoran Baru apalagi Kebayoran Lama.
Dengan harga Rp. 30.000,00 satu porsi kita bisa menikmati bandeng bakar tanpa duri dan udang bakarnya sekalian. Saking laparnya, saya sampai nyicipin bandengnya bu Sari. Saya habis tiga ekor dan 5 ekor udang bakar. Wuah nikmat buanget.........super lezat. Autoblackthrough!!! Nah untuk black community yang konvoi atau kuliner ke Cirebon jangan lupa mampir!!

Menurut mas Aung, sang empunya saat saya tanya bagaimana kok durinya bisa nggak ada. Ternyata dicabuti secara teliti (satu-satu), dan butuh waktu satu jam bagi yang belum terbiasa. Untuk mempercepat proses pencabutan tulangnya mas aung mengupah pekerja. Setiap malamya menghabiskan 25 kilogram ikan untuk dijual. Bisnis yang menggiurkan.........

Tour de Cirebon

Black in News : Rencana travelling yang udah lama akhirnya kesampaian juga. Ahad, 21 Desember 2008 bareng temen-temen yang sudah merasa jenuh, tour ke Cirebon dan Kuningan.

Hari Pertama
Berangkat dari Markas di komplek Kostrad pukul 08.00, naik bis tiga perempat yang isinya juga sebagian besar orang-orang "tiga perempat". Maksud inyong umure wis senja, ngundak maghrib....Tujuan pertama mampir ke rumah bu Yeyet, di desa Cimalati, Sukasar, Mandaranca. Pukul 1/2 satu, dengan kondisi yang tong kosong, sampai deh di tujuan.

Panorama kuningan yang indah dan hawanya yang sejuk makin menambah nimkmatnya perjalanan. Apalagi rumah bu Yeyet yang berada diketinggian dan luas, ditambah kebun jagung dan mangganya, tambak ikannya yang berada diujung. pemandangan disamping rumahnya terasa main memanjakan mata untuk tidak dilewatkan. Rumah yang tidak jauh dari kaki gunung Ciremai, terasa benar sejuknya....




Pertama yang nyambut "tuan rumah" Pak Dhabas dan istri yang sudah nyampe duluan kemudian kakaknya bu Yeyet yang ampun deh halus bener tuturnya. Sekedar basa-basi, terus disuguhin teh upet (diseruput rasanya sepet) dan ditemani mangga apel serta salak. Selanjutnya, pasukan menyerbu makanan yang sudah dihidangkan ada, nasi sayur asem, ikan mujaer goreng, sambel yang lumayan pedes, ati pohon (jengkol), lalapan khas sunda, ayam goreng, tempe tahu nggak ketinggalan. Makan diruang tengah yang luas, ciri khas rumah kampung (kayaknya sih ciri khas rumah Indonesia).
Mak nyusss.......... Autoblacktrhough!!!!!

Wednesday, March 05, 2008

Christine Hakim : Kripik Balado Bagayo

Siapa yang nggak kenal kripik singkong balado. Sebagai buah tangan dari Padang rasanya memang pas dan khas. Berkesempatan ke Padang, iseng-iseng mampir ke tokonya Christine Hakim dekat jembatan Siti Nurbaya, Teluk Bayur. Disepanjang sungai sampai ke Muara pantai Padang, banyak kapal-kapal pesiar bersandar.

Kripik singkong Baladonya christine hakim memang sangat terkenal, satu bungkus seharga Rp. 18.000,00. selain kripik ada juga kerupuk kulit seharga Rp. 24.000,00. Ada juga rendang gulung Rp. 30.000-an, dan masih sangat banyak oleh-oleh yang bisa dibeli di Balado Cristine Hakim.


Lokasinya yang strategis toko ini menjadi sangat laris manis.


Suasana belanja yang riuh renyah kayak kerupuk


Sang empunya : Christine Hakim

Monday, March 03, 2008

Cenduy Patimura (Pattimura Cendol Ice)


Es cendol? ah itu sih biasa.....!!! Di mana-mana yang namanya
es cendol ya tepung beras dibuat seperti cendol, di kasih santan
dan diberi es, kasih deh sedikit gula sebagai pemanis.

Jangan salah, es cendol ini agak unik. Es cendol buatan orang padang
tapi namanya ambon. Es Cendol Patimura: dibuat mirip es cendol
yang beredar di Jakarta, hanya bedanya ditambah beras ketan yang
baru dipanen dan ditumbuk halus (emping) mentah dirajang agak halus,
diberi parutan kelapa selain santan dan adonan gula merah.

Saat ditanya mengapa namanya Es Cendol Pattimura. Jawaban uni
Farida, karena es ini hanya ada di Jalan Pattimura. Nah, bagi yang
belum pernah mencicipi nikmatnya minuman ini silakan datang ke
kota Padang jalan Pattimura.

Thursday, February 28, 2008

Makan Bajamba (Bajamba Lunch)

Peninggalan anak bangsa yang perlu dilestarikan. Kebudayaan Minagkabau adalah salah satu mata rantai kebudayaan bangsa ini yang bernilai eksotik dan tinggi. Mulai dari ukirannya, bentuknya dan falsafahnya. Saat berkunjung ke kota payakumbuh, kecamatan lima puluh kota, tepatnya di desa sungai beringin, rombongan kami singgah di sebuah restoran bergaya klasik, yakni rumah gadang. Kami di ajak makan gaya basamba, yakni makan satu meja, sattu nampan berisi lauk dan satu bakul kecil nasi. dan cara makannya yang unik, lauknya dicomot dan agak dilempar ke mulut. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk menghindari kesan jorok, karena tangan kanan akan mengambil lauk kembali dan nasinya dikepal-kepal.

Namun sayang, karena yang datang rombongan kelaparan. jadinyanya makan basambanya ala orang-oran lapar. Terutama Madam Handoyo Ivan yang makannya pindah-pindah, belum lagi yang rebutan dan terburu-buru. api tetap asyik kok......

Restoran bergaya rumah gadang

Menu makan bajamba dalam satu nampan


Suasana makan bajamba


Panorama yang indah

Foto bersama dulu di halaman

Thursday, January 24, 2008

Sop Jahe, masakan khas lebaran ala H. Rais

Hari raya iedul fitri biasanya dirayakan dengan penuh suka cita oleh semua umat Islam di seluruh dunia. Begitu juga keluarga besar H. Rais yang biasanya menyiapkan masakan khasnya, yakni sop jahe.

Biasanya keluarga yang datang atau tamu yang berkunjung selalu disajikan masakan ini. Dulu, saat saya masih remaja dan sebelum menikah, saya dan baba, panggilan H. Rais. Beliau adalah ayah saya dan kini hampir setahun sudah wafatnya, saya dan baba keliling cakung mencari tulang yang dijual, terutama tulang paha dan iga. Wah, bisa seharian memilih, mencari dan membawanya pulang ke Priok. Saat masih muda, baba adalah penjual daging dan sate kambing, jadi beliau tahu betul mana yang baik untuk dimasak sop jahe.

Sop jahe, adalah masakan khas resep dari nyak tua Hj. Marhamah almarhum yang memang jago masak, dulu juga waktu beliau masih hidup aku suka ngerecokin di warung nasinya.

Nah, biasa deh emak saya yang bikin bumbunya bab yang memotong-motong tulang yang baru dibeli dari tukang daging di sepanjang jalan tipar cakung.

Alhasil, nikmat banget di makan selepas sholat ied dan hampir pasti ludes nggak nunggu sampai besoknya. Keluarga dan tamu yang datang belakangan pasti gigit jari, kehabisan .......

Nah untuk resepnya nanti aku tulis deh untuk para pencinta masakan tradisional indonesia.

Wednesday, January 23, 2008

Street Marketing

Anda orang yang latah? Jika ya, maka bisa jadi Anda merupakan sosok yang cukup menarik untuk diberi hadiah seporsi soto. Anda tidak menolak, bukan? Kenapa harus soto? Anda pernah mendengar soto gebrak? Nama yang menarik bukan?

Soto gebrak merupakan merek sebuah warung soto yang terletak di kawasan Tebet. Bagi saya, ia memberikan contoh bagaimana pemasaran tidak hanya untuk perusahaan besar. Warung soto, yang gedungnya tidak semegah gedung di kawasan segitiga emas, juga secara sadar atau tidak menerapkan konsep pemasaran.

Kenapa dikatakan soto gebrak? Karena setiap kali Anda memesan seporsi soto, maka peramu soto akan dengan cekatan menggebrakkan sebotol kecap. Dan, terjadilah kehebohan. Bagi orang yang latah, mendengar gebrakan tersebut pasti langsung akan terkejut dan mengeluarkan kata-kata lucu hasil kelatahan tersebut.

Berada di dalam warung soto gebrak sambil menikmati seporsi soto yang nikmat ditemani dengan panasnya suasana warung tentu cukup menarik. Tetapi, yang jauh lebih menarik tentu ''pengalaman'' yang dialami selama berada dalam warung tersebut, terutama menikmati gebrakan sang koki yang menimbulkan berbagai celotehan kelatahan para pengunjung.

Apa yang kita nikmati bukan soto saja, tetapi sebuah pengalaman gratis dan menyenangkan. Kita pasti akan tertawa menikmati kelatahan rekan sesama pengunjung yang terkejut. Ini merupakan sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan pernah kita nikmati di warung lain atau bahkan hotel berbintang sekalipun.

Apa yang kita nikmati bukan hanya lezatnya seporsi soto, tetapi ''bumbu-bumbu'' di balik itu yang justru sangat mengesankan. Kita dapat mengeluarkan senyum simpul atau mungkin tertawa terbahak-bahak karena keterkejutan pengunjung akibat gebrakan sang koki soto. Pengalaman ini akan lebih menarik bila sang pengunjung baru datang untuk pertama kalinya. Dijamin bakal heboh.

Sebuah pengalaman yang diciptakan oleh keterkejutan dan kelatahan pengunjung lainnya tentu akan memberikan sebuah memorable experience. Meskipun menikmati soto ditemani dengan terik panas matahari, kita tetap akan selalu tersenyum.

Street marketing ala soto gebrak menunjukkan bahwa berjualan soto tidak sekedar berjualan rasa yang enak plus murah. Soto dengan cita rasa yang enak dapat dengan gampang kita jumpai di mana-mana. Cita rasa yang nikmat memang memberikan kepuasan kepada kita semua.

Tetapi, dengan persaingan yang semakin ketat selama ini, kepuasan konsumen saja tidaklah cukup. Soto gebrak tidak sekadar menjual sotonya yang enak, tetapi juga memberikan suasana yang menyenangkan dan pengalaman berkesan. Inilah wujud implementasi experiential marketing yang akhir-akhir ini bak kacang goreng sering didengungkan para pakar pemasaran.

Experiential marketing ala soto gebrak menunjukkan bagaimana menciptakan suatu produk yang tidak hanya menawarkan manfaat fungsional, yaitu lezatnya si soto. Tetapi, juga manfaat emosional yang justru bukan diciptakan oleh si penjual soto, melainkan pengalaman yang kita nikmati dari rekan sesama pengunjung. Pengalaman dari keterkejutan dan kelatahan sesama pembeli soto yang akan membuat kita selalu teringat dan tersenyum meskipun kita sudah beranjak dari warung tersebut.

Street marketing atau pemasaran ala jalanan seperti ini merupakan sebuah contoh penerapan konsep pemasaran yang tanpa harus menempuh mata kuliah pemasaran terlebih dahulu. Pemasaran tidak harus diterapkan di perusahaan besar. Soto gebrak memberikan contoh bagaimana usaha kecil dan menengah dapat menggunakan pemasaran sebagai cara untuk tampil beda di tengah banyaknya soto-soto berseliweran seantero Jakarta.

Oleh: Sumardy, Business Analyst, Corporate & Strategy Practice, MarkPlus&Co

Kerak Telor, Selera Betawi

Pernah denger makanan betawi yang namanya kerak telor?

Yang pasti bukan telor gosong yang terus jadi kerak… hehehe
Makanan ini selalu ada di arena jakarta fair… dari tahun ke tahun, mulai dari jamannya masih di Monas hingga kini pindah ke Kemayoran.

Makanan ini terbuat dari nasi ketan aron atau setengah matang, yang kemudian dicampur dengan telor (bisa telor ayam atau telor bebek) beserta bumbunya. Setelah matang dimakan dengan taburan serundeng dan bawang goreng. Cara masaknya juga cukup unik. Ketika kerak telor telah setengah matang maka wajan pemasaknya dibalikkan dan kerak telor dibiarkang langsung terkena panas arang dari anglo sehingga kemudian menjadi sedikit gosong. Mungkin ini yang dinamakan keraknya…

Gw suka makanan ini karena kebetulan mama gw juga suka banget. Mulai dari harganya Rp 200 untuk telor ayam dan Rp 300 untuk telor bebek hingga kini menjadi Rp 7000 untuk telor bebek. Harga itu bisa lebih mahal lagi ketika kini kerak telor bisa kita jumpai di pasar modern seperti Carefour Foodcourt.

Senin malam lalu, gw membeli 4 kerak telor untuk mama. Kebetulan kini gw bisa menjumpai tukang kerak telor ini di deket kantor. Tepatnya di parkiran Circle K Pancoran. Dari dulu hingga kini yang gw perhatikan menjual biasanya adalah seorang bapak-bapak tua. Entah kenapa mungkin sang anak tak mau lagi meneruskan usaha bapaknya karena mendapat pekerjaan yang lebih baik atau karena malu. Dan selalu pula sambil penjual tersebut memasak, kami berbincang santai… seputaran jakarta tempo dulu dengan dialek betawi yang kental.

Entah sampai kapan kerak telor ini akan bertahan di tengah derasnya serbuan fast food barat seperti McD, Burger King, Pizza atau juga japanese food seperti HokBen yang kini ada di mana-mana. Bahkan saat ini tampaknya lebih bangga menjadi bagian dari kapitalis kuliner barat seperti Burger Blenger atau japanese food lokal seperti Roku-Roku ketimbang melestarikan kuliner lokal seperti kerak telor ini…

Sumber : Indonesian Community