Thursday, March 11, 2010

Si Doel (English Version)

by kasmadi

"Doel actually what you're looking for? You're clever, is not possible, work away from you" Uncle Hamid asked Doel, a bright boy Gandun, Pondok Labu area.

Who would not know the Doel. Ideals still so builders engineers, but what power, his late father only artisans selling banana leaves. Sometimes his father's hip nguli doel in Pondok Labu market. Today the Doel desperate migrated to the land wither, Malaysia. Si doel bet for the future.

"Uncle, I pray for blessing may be there Doel uncle did the same familiar, although they are linked only aged 3 years, but because Hamid in his extended family structure is the Uncle. Well, the doel because factors other than family, they were close friends.

"Well, I hope you succeed, Doel. Do not forget to Allah Subhanahu Wata'ala, because that's what you have now" Hamid's advice to the Doel.

*****

Ten years after that, the doel is so famous. Hamid does not understand how could the famous Sanat Doel. Si doel uproar that shook the world of cross-cultural and religious, make Gandun family, especially her beloved sister, Salama, confined himself. Hate, longing and wonder-stirring mixed emotions shake Salama, Gandun belle beauties.

How not excited, if the Doel fame because he became the "terrorists".

"Bang doel, so why brother. And hoping bang doel Amah home with a lot of success stories that make Amah proud. Amah miss bang doel voice again when reading the Qur'an. .....!!! Bang Salama face down cover face with tears in his eyes.

*****

Yesterday, ambulances with dozens of police escort came to the house of the late Haji Tholib, home of the Doel. Yes, he came back to Doel's home but already lifeless. Si Doel, "died" in his faith, after a poor cross into the whistle of bullets in Afghanistan, Iraq, and the last Mindanao. He died a martyr according to the belief some people.

And, the models Doel will grow to replace the doel who have "died a martyr". Because the virus has spread to the belief over the world with a variety of shapes and movement.

Si Doel

by kasmadi

"Doel sebenernye ape sih nyang elu cari? Pan elu pinter, kagak bakalan dah, tuh kerjaan lari dari elu" Cang Hamid nanya Doel, anak pinter se Gandun, kawasan Pondok Labu.

Siape sih nyang kagak kenal si Doel. Cite-citenye sih jadi tukang insinyur, namun ape daye, almarhum babenye cuman tukang jual daun pisang. Kadang babenye si doel nguli panggul di Pasar Pondok Labu. Hari ini si Doel nekad merantau ke tanah melayu, Malaysia. Si doel bertaruh untuk masa depannya.

"Cang doain aye moge-moge dapet keberkahan di sono" Doel emang deket ame encangnya, meski umur mereka bertaut hanya 3 tahun, tapi karena Hamid dalam struktur keluagra besarnya adalah encang. Nah, si doel selain karena faktor keluarga, keduanya emang berteman deket.

"Yah moge aje elo berhasil Doel. Jangan lupa Allah Subhanahu Wata'ala, karena cuman entu yang elu puya sekarang" nasehat Hamid pada si Doel.

*****
Sepuluh tahun setelah itu, si doel memang jadi orang terkenal. Hamid kagak habis pikir bisa-bisanya si Doel se terkenal itu. Heboh si doel yang mengguncang dunia lintas budaya dan agama, membuat keluarga di Gandun, terutama adek kesayangannya, Salamah, mengurung diri. Benci, kangen dan penasaran teraduk-aduk mengguncang emosi Salamah, gadis cantik primadona Gandun.

Gimana kagak heboh, kalau kertenaran si Doel karena ia menjadi tokoh "teroris".

"Bang doel, kenape abang jadi begitu. Padahal Amah ngarepin bang doel pulang dengan segudang cerite sukses yang bikin Amah bangga. Amah kangen same suara merdu bang doel kalo lagi baca waqiah. Bang .....!!! Salamah menelungkup menutupi wajahnye dengan linangan air mate.

*****
Kemaren, ambulance dengan pengawalan ketat puluhan polisi dateng ke rumah almarhum Haji Tholib, rumah si Doel. Ya, si Doel dateng kembali ke rumehnye tapi udeh kagak bernyawe. Si Doel, "gugur" dalam memperahankan keyakinannya, setelah malang melintang menembus desingan peluru di Afghanistan, Iraq, dan terakhir Mindanao. Ia mati syahid menurut keyakinan sebagian orang.

Dan, kayaknya model-model si Doel akan tumbuh menggantikan si doel yang telah "mati syahid". Sebab virus keyakinan telah menyebar ke penjuru dunia dengan berbagai bentuk dan gerakan.

MANDING VILLAGE

by kasmadi

Sebuah desa tidak jauh dari pantai parangtritis (Paris), desa industri, seperti halnya kota gede. Desa tersebut bernama Manding. Jaraknya sekitar 3 - 4 kilometer sebelum Pantai Parangtritis.
(sumber gambar :mycityblogging.com)

manding merupakan tipikal desa di Indonesia, selain masyarakatnya bertani, juga membuka usaha home industri berupa produk barang jadi yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi.

Produk yang dihasilkan seperti sepatu, tas, jaket, topi dan pernak-pernik yang terbuat dari kulit.
Varian produk yang terbuat dari bahan yang sama ini telah mengangkat desa manding menjadi desa produktif untuk tujuan wisata. Wajar kalau kemudian pemerintah daerah mendaulat desa ini menjadi desa home industri. Peroduk yang dihasilkan tidak kalah kualitasnya dengan produk impor, meskipun demikian karena alasan klasik, produk-produk ini kalah bersaing dengan produk china dan manca negara. Perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk desa Manding ini.

Manding yang terletak di kabupaten Bantul ini menjadi snetra pengrajin kulit seperti di Cibaduyut atau PIK di Cakung Jakarta Timur. Sentra-sentra industri rumahan ini mentok hanya dikenal di dalam negeri karena daya dukung baik materil maupun non materil yang mungkin kurang dari pemerintah. Maka perlu terobosan kebijakan agar snetra-sentra seperti ini menjadi pendobrak industri sejenis dari luar negeri.

Wednesday, March 10, 2010

A trip to Paris

by kasmadi

Paris? Wow who refused to be taken to Paris. Eifel Tower is pictured in front of the eye.
Eit ... whoa, is pictured Paris wrote. Paris was there in Jogjakarta, hangout again young couple in love, make off tired after work and once weekly family gathering.

The journey to Paris we will be treated to a pretty hot country, knowing the beach. But along the way we'll also see a beautiful panoramic paddy dikes, when I happened to Paris's harvest. Paris does have a beautiful contour because there is complete hills, fields and certainly no direct beach.

Sendri Paris beach is legendary, since a few years ago I come and visit for a second time. Beautiful beaches with large waves and high are on the lips for the Indian ocean. Actually, the beach is made as worthy Paris sanur beach in Bali only in the direction of development there does not seem to mind. Paris is a hilly coast better than the Sanur beach. Perbukitannya can be used for paragliding, and fine sandy beaches for sunbathing can. Unfortunately, management is in shambles and the cleanliness of him that is not guaranteed. Stalls were scattered everywhere, not to mention the gig which also take tourists back and forth around the beach. Lodging is not arranged neatly. Well, there are many very shortcomings. Despite all these shortcomings are worthy of the Paris beach used as one of the beach tourism destination in Jogjakarta.

Friday, March 05, 2010

Jalan-Jalan Ke Paris

by kasmadi

Paris? Wow siapa yang nolak diajak ke Paris. Menara Eifel sudah terbayang dipelupuk mata.
Eit...nanti dulu, sudah ngabyangin Paris aja. Paris ini adanya di Jogjakarta, tempat mangkal pasangan muda yang lagi kasmaran, buat ngelepas penat setelah kerja semingguan dan silaturrahim keluarga.

Perjalanan menuju Paris kiata akan disuguhi pedesaan yang lumayan panas, maklum dekat pantai. Namun sepanjang perjalanan kita juga akan melihat panorama indah pematang sawah, kebetulan saat saya ke Paris sedang musim panen. Paris memang memiliki kontur yang indah karena lengkap ada perbukitan, pastinya ada persawahan dan langsung pantai.

Pantai Paris sendri sudah sangat melegenda, sejak beberapa tahun lalu saya datang dan kunjungan ini untuk kali yang kedua. Patainya indah dengan ombaknya besar dan tinggi sebab berada pada bibir samudra hindia. Sebenarnya, pantai Paris layak dibuat seperti pantai sanur di Bali hanya saja pembangunan ke arah sana sepertinya tidak terpikirkan. Pantai Paris yang berbukit lebih bagus ketimbang sanur. Perbukitannya dapat dipakai untuk paralayang, dan pantainya yang berpasir halus bisa untuk berjemur. Sayangnya, manajemen pengelolaanya amburadul dan kebersihan yang tidak terjamin. Warung-warung bertebaran di mana-mana, belum lagi bendi yang juga hilir mudik mengajak wisatawan berkeliling pantai. Penginapan yang tidak tertata apik. Yah, masih banyak sangat kekurangannya. Terlepas dari semua kekurangan tersebut pantai Paris memang layak dijadikan jagonya obyek wisata pantai di Jogjakarta.

Wednesday, March 03, 2010

Ramayana Ballet

by kasmadi

Salah satu daya tarik wisata di Jogjakarta adalah banyaknya situs-situs berupa candi. Peninggalan yang teramat berharga untuk diabaikan dari leluhur bangsa Indonesia. Candi-candi ini menjadi pemikat yang menakjubkan bagi turis untuk ditengok, ditelusuri sejarahnya dan arsitetkturnya.



para penari ramayana

Prambanan, sebagai salah satu candi termegah di Indonesia telah banyak menarik minat turis baik lokal maupun mancanegara. Candi peninggalan kerajaaan Hindu ini dalam menarik wisatawan salah satunya dengan menampilkan sendratari Ramayana. Sendratari ini mengisahkan peristiwa perebutan dara cantik yang telah menjadi istri Pangeran Rama, Dewi Shinta. Dewi Shinta yang konon kabarnya wanita tercantik di kerajaannya, membuat Rahwana mabuk cinta sehingga timbul niatnya membawa lari wanita cantik ini.

Kesempatan pun terbuka lebar saat Dewi shinta hanya dijaga oleh adik Pangeran Rama, Pangeran Lesmana, dan terjadilah penculikan tersebut dengan penampilan yang dramatis dari para penarinya.

Sendratari ini telah memikat banyak wisatawan. Buktinya, saat rombongan kami dari SMAN 74 Jakarta menonton, ternyata ada rombongan dari Jepang, India, Perancis dan juga turis lokal. Dalam bayangan saya, tarian ini akan digelar di taman Prambanan. Nyatanya dugaan saya melesat, sendratari ini ditampilkan di sebuah pendopo yang sengaja dibuat untuk pagelarannya. Hanya sebulan sekali yang ditampilakan di taman Candi Prambanan. Tiket masuk yang relatif murah, hanya Rp. 15.000,00 dan kalau anda membawa kamera dikenakan cas sebesar Rp. 5.000,00. Kalau anda membawa handycam diwajibkan membayar tambahan sebesar Rp. 50.000,00. Sayangnya, kondisi sirkulasi udara yang kurang nyaman membuat penonton kepanasan, meskipun pendopo ini didisain dengan sanitasi yang cukup baik. Namun tidak membuat nyaman penonton karena panas.

Tuesday, March 02, 2010

Sup Batu

By : nomor1.com

Pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil.

Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu - dan sebagai rakyat jelata - merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk, bibit, dan kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan apa-apa lagi. Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.

Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.

Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu, “Apakah kalian tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti ini ?”

“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan itu yang kita miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.

“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?” tanya orang bijaksana sekali lagi.

Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”

“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan, “Pertama-tama, ambil tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !” perintah orang bijaksana sambil menunjuk tiga buah batu sebesar kepalan tangan. Orang-orang pun mengikuti perintahnya.

Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di permukaannya. Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci yang paling besar dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan air. Ketiga batu bersih itupun lalu dimasukkan ke dalam panci - dan sesuai dengan petunjuk orang bijaksana itu - batu-batu itupun mulai direbus.

“Ada yang dari kalian tau bumbu masak ? Batu-batu itu tidak akan enak rasanya jika dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.

“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan bumbu dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.

“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?” Tanya orang bijaksana itu. “Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan beberapa bahan lain, jangan cuma batu saja.”

Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.” Katanya. Kemudian orang itu mengupas, encuci, dan memotong-motong kentang-kentang itu dan memasukkannya ke dalam panci.

Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa buncis dan sawi. “Aku masih punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.” Kata ibu itu, lalu ibu itu meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.

Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku berhasil memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa membawa lebih lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci di balik bukit itu.” Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun disembelih dan diolah kemudian dimasukkan ke dalam panci.

Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu.

Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung, dan bermacam-macam sayuran lain. Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-macam buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa dijadikan pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa susu dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang bersarang di beberapa pohon di desa itu.

Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu sekarang telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka cita, penduduk itu makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang, hingga mereka lupa ‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.

Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu. Dan mereka pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan. Mereka mohon diri untuk meninggalkan desa itu.

Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong memeluk dan menciumi ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari kami untuk membuat sup dari batu....”