Thursday, April 30, 2009

KONCALIT vs koncalit

Hari-hari belakangan ini, endonesia sedang ramai oleh pertunjukkan wayang koalisi para elit politik. Pemilu raya yang telah berlangsung hampir sebulan yang lalu memang mengundang banyak komentar miring dan pesimistis atas kejujuran hasil pemilu tersebut.

Akibatnya, hasil yang katanya menggemparkan jagat orang-orang politik tersebut sangat mencengangkan. Bagi saya, entahlah! Penting banget untuk diperhatikan adalah keberlangsungan kehidupan rakyat. Rakyat macam saya, cukuplah kesejahteraan yang jadi mimpi. Jangan lagi diganggu oleh mimpi-mimpi para elit politik untuk bertengger si singgasana, tanpa mempedulikan jeritan rakyat yang tengah dihimpit banyak penindasan dan kemiskinan. Kemiskinan yang mengarah pada kemiskinan absolut, bukan kemiskinan nisbi di atas kertas biro pusat statistik.

Panggung para KONCALIT memang tidak selebar para koncalit. KONCALIT hanya memperebutkan lahan yang luasnya tidak lebih dari 5 hektar yang berbatasan langsung dengan MONAS, Jl. Harmoni, Jl. Veteran dan Jl. Majapahit. Atau hutan yang menghasilkan ribuan Undang-undang dan para koruptor, di Jl. Gatot Subroto. Bandingkan dengan luasnya panggung para koncalit, dari ujung pulau sabang sampai ujungnya papua, merauke. Sakong luasnya lahan panggung tersebut, para koncalit 9lakon cah alit) juga tidak kebagian, karena dikendalikan oleh para KONCALIT (lakon Cah Elit).

Perilaku yang selalu haus kekuasaan tidak pantas menjadi pemimpin. Rakyat sudah cukup susah, maka diperlukan pemimpin yang berjiwa rakyat dan peduli atas nasib rakyat.

Monday, April 27, 2009

Saung Mang Udjo

by kasmadi

Saung angklung Udjo memang sudah sangat beken bagi wisatawan. Sebuah penghargaan atas dedikasinya terhadap budaya sunda, terutama seni musik angklung. Dengan adanya saung angklung udjo ini, ada sarana untuk memperkenalkan seni musik tradisional sunda berupa angklung. Angklung yang terbuat dari bambu sangat khas bunyinya dengan nada-nada pentatonisnya. Kekhasan ini sudah sangat pantas untuk terus dijaga kelestariannya.

Saung Udjo beralamat di Jalan Raya padasuka 118 Bandung Jawa Barat. Saung angklung yang didirikan tahun 1966 oleh mang Udjo Ngalagena telah terkenal seantero mancanegara. Bermula dari sekedar pelestarian angklung sebagai alat musik tradisional, kini saung angklung udjo telah berkembang secara profesional menjadi tempat wisata tradisonal yang menarik. Pertunjukkan angklung dibuka setiap hari dari pukul 15.30 sampai dengan pukul 17.00 wib.

Tarian Anak-Anak
Pertunjukan diawali dengan trian anak-anak sejenis dengan kuda lumping, disusul dengan arak-arakan penganten sunat, di tanah sunda disebut heleran. Sebuah tarian untuk mengungkapkan rasa syukur atas dikhitannya seorang anak lelaki. Kemudian disusul dengan tarian topeng yang ditampilkan oleh tiga anak-anak perempuan. Dengan tangkas dan menarik tiga anak ini menampilkan tari topeng yang indah gerakannya dengan diringi musik khas angklung dan tetabuhan perkusi.


Selanjutnya, pertunjukkan tarian ini diakhiri dengan musik angklung orkestra. Adapun lagu-lagu yang dimainkan lagu-lagu daerah se-Nusantara, mulai dari aceh hingga papua.


Pertunjukan Angklung Arumba dan orkestra



Pengunjung bermain angklung dan menari bersama

Menariknya pertunjukkan ini adalah melibatkan penonton atau pengunjung untuk bermain angklung secara interaktif. Ternyata bermain angklung itu mudah. Pengunjung yang hadir dapat serempak bermain angklung dengan sebuah lagu dari dewa : munajat cinta dan dari elvis presley : falling in love.


Speaking with tourist
Program inti dari fieldtrip english program kali ini adalah melatih anak-anak didik melancarkan spieking in english-nya. Salah satunya dengan ngobrol dengan para turis di saung mang Udjo ini.

Kota Tua Bandung





Fieldtrip to Bandung

by kasmadi

English Program for tourism mengadakan fieldtrip to bandung. Adapun maksud program ini untuk melatih mental dan public speaking anak-anak altilery 74 dengan para turis. Selain itu, anak-anak didekatkan dengan sejarah dan budaya bangsa. Yah, agar anak-anak bangsa ini tidak melulu dijejali budaya asing yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Kunjungan ke Museum Asia Afrika
Sebuah museum yang menandakan kebangkitan bangsa-bangsa asia dan afrika. Gedung merdeka ini dipakai untuk konferensi asia afrika tahun 1955 dihadiri 29 negara dari berbagai negara asia dan afrika.






Wednesday, April 22, 2009

Sudut keraton Djogja 2





halaman ganjil 2

terpaku di sudut halaman
ada sebuah nama terpatri
samar
buyar berpendar
tertetes air mata

tak sempat terungkap

Tuesday, April 21, 2009

Purwokerto Tempo Doeloe



sumber gambar : www.goleti.com

halaman ganjil

lembar demi lembar
halaman demi halaman
kubuka perlahan pasti

ada kubangan yang keruh
basah bau menyengat
hangus lebam terbakar

Monday, April 20, 2009

Kegalauan Seorang Guru

Jum'at pagi, 17 April 2009 mendapat undangan untuk pengarahan pengawaas Ujian Nasional. Kegundahan hati seorang guru bernama Robert, memang sangat wajar. Ditengah-tengah persiapan UN yang penuh peluh, lelah dan memakan waktu istirahat seorang guru, justru dihabiskan disekolah bahkan sampai malam. Apalagi kalau bukan belajar bersama murid-murid tersayang. Pun, ditengah persiapan yang mungkin juga tak kenal waktu tukang cetak, para pembuat soal UN, nyatanya ada saja okunum yang mengambil keuntungan dengan membocorkan soal dan kunci UN. Sungguh terlalu....

Kegundahan hati Pak Robert, mengapa kok pengawasan super ketat justru terjadi di sekolah-sekolah pada saat UN digelar. Intinya, ada rasa curiga terhadap sekolah wabil khusus guru. Mengapa?

Pertanyaan itu hanya pantas dijawab oleh para pengambil kebijakan. Saya yakin kalau seorang guru mempunyai jiwa pendidik, tentu ia tidak akan melakukan tindakan yang tercela tersebut. Kecuali ada indikasi pemaksaan dari kepala sekolah atau kepala kanwil yang memasang target harus lulus 100%. Ya, lulus 100% sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan disebuah sekolah.
Padahal sekali lagi Allah saja memaklumi bahwa tidak sumua manusia lolos 100% dalam uji imannya. Masa iya, UN harus lolos 100%, di mana letak kredibilitasnya? Sangat mustahil, kecuali terjadi kongkalikong antara pengawas, pihak sekolah dan pengambil kebijakan. Atau sengaja dibuat sistem agar lolos semuanya

Bisa toh? bisa lewat konversi, mohon tau sama tau antara sekolah dengan pengawas, guru yang nunggu muridnya bergiliran ke tolet untuk memberi tahukan jwabannya. Atau mengumpulkan seluruh murid sepagi mungkin untuk memberikan bocoran. Tetapi mengapa harus demikian?

Oh UN...UN mengapa engkau jebak seluruh sendi jadi gelap mata dan lupa tujuan?

Tenanglah hati nurani, masih banyak guru yang tidak terjebak kok!

Friday, April 17, 2009